Islam Tidak Ajarkan Terorisme, Bahkan Dalam Perang Pun Larang Bunuh Perempuan Dan Anak-Anak
Islam Tidak Ajarkan Terorisme, Bahkan dalam Perang Pun Larang Bunuh Wanita dan Anak-Anak.
TIAP kali terjadi agresi teror dan teroris dikaitkan dengan Islam, kalangan ulama dan ormas Islam selalu mengutuk sekaligus menegaskan Islam tidak mengajarkan terorisme dan teroris bukan potongan dari kaum Muslim.
Sumber http://muslimbuzzers.blogspot.com
TIAP kali terjadi agresi teror dan teroris dikaitkan dengan Islam, kalangan ulama dan ormas Islam selalu mengutuk sekaligus menegaskan Islam tidak mengajarkan terorisme dan teroris bukan potongan dari kaum Muslim.
Usai terjadi ledakan bom di Surabaya, ormas Islam Indonesia yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyatakan sikap.
Sekretaris Jenderal LPOI Lutfi A Tamimi mengatakan, LPOI sangat berduka cita dan memberikan rasa belasungkawanya untuk korban meninggal dunia.
"LPOI mengutuk keras para teroris yang biadab dan sangat keji akhlaknya, serta tidak mengikuti fatwa agama Islam," kata Lutfi, Senin (14/5/2018).
Menurut Lutfi, LPOI sepakat, para teroris tersebut bukan penganut Islam yang rahmatan lil alamin.
Ke-14 ormas Islam yang tergabung dalam LPOI yaitu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Al-Irsyad Al-Islamiyah, Al Washliyah, Persatuan Umat Islam (PUI), Persatuan Islam (PERSIS), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Mathla'ul Anwar, dan Yayasan Az Zikra.
Selain itu, ormas Islam lainnya di LPIO yaitu Al-Ittihadiyah, Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Rabithah Alawiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Nahdlatul Wathan dan Himpunan Bina Mualaf Indonesia (HBMI).
LPOI juga meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengawasi warga negara Indonesia (WNI) yang kembali dari Suriah dan Irak.
Menurut LPOI, upaya tersebut perlu dilakukan, alasannya yaitu pihaknya tidak ingin Indonesia menjadi porak-poranda menyerupai beberapa negara Timur Tengah.
"Mereka yang pulang dari Suriah dan Irak, kenapa tidak dipantau BNPT? Di (negara) tetangga kita dikasih gelang, ke WC pun tahu," ujar Lutfi.
"Jangan Indonesia dibentuk begitu. Kami gandeng Polri, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kementerian Dalam Negeri," tambah Lutfi.
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al Washliyah (PP GPA) juga mengecam keras para pelaku teror bom bunuh.
"Aksi teror bom di Surabaya yang menimpa rumah ibadah, tidak ada hubunganya dengan Islam. Sebab Islam tidak ada sedikit pun mengajarkan teror apa lagi hingga menghilangkan nyawa orang lain, ketika Pembebasan Makkah (Fathul Makkah) Nabi Muhammad SAW sangat terang sekali mengeluarkan perintahnya siapa saja yang boleh diperangi," tegas Ketua Umum PP GPA Wizdan Fauran Lubis, melalui rilisnya, Senin (14/5).
Dia menjelaskan, Nabi Muhammad SAW melarang membunuh para pendeta, perempuan dan bawah umur yanh berlindung didalam rumah ibadah dan rumah sendiri, juga dihentikan merusak tumbuh-tumbuhan.
Wizdan juga mengatakan, Islam tidak menolerir perbuatan perbuatan yang sanggup merusak sendi-sendi kehidupan terlebih menghilangkan nyawa manusia.
"Aksi teror bom di Surabaya yang menimpa rumah ibadah, tidak ada hubunganya dengan Islam. Sebab Islam tidak ada sedikit pun mengajarkan teror apa lagi hingga menghilangkan nyawa orang lain, ketika Pembebasan Makkah (Fathul Makkah) Nabi Muhammad SAW sangat terang sekali mengeluarkan perintahnya siapa saja yang boleh diperangi," tegas Ketua Umum PP GPA Wizdan Fauran Lubis, melalui rilisnya, Senin (14/5).
Dia menjelaskan, Nabi Muhammad SAW melarang membunuh para pendeta, perempuan dan bawah umur yanh berlindung didalam rumah ibadah dan rumah sendiri, juga dihentikan merusak tumbuh-tumbuhan.
Wizdan juga mengatakan, Islam tidak menolerir perbuatan perbuatan yang sanggup merusak sendi-sendi kehidupan terlebih menghilangkan nyawa manusia.
Islam Anti-Terorisme
Ajaran Islam secara tegas menentang agresi terorisme atau kekerasan. Bahkan, dalam situas perang sekalipun, Islam melarang kaum Muslim membunuh perempuan dan anak-anak.
Dalam sebuah risalahnya, Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali menguraikan soal Islam dan terorisme (kekerasan) sebagai berikut.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Aku mendapati seorang perempuan yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian dia melarang membunuh kaum perempuan dan bawah umur dalam peperangan” (HR Bukhari [3015] dan Muslim [1744]).
Dalam riwayat lain disebutkan, “Rasulullah saw. mengecam keras pembunuhan terhadap kaum perempuan dan anak-anak,” (HR Bukhari [3014] dan Muslim [1744]).
Dari Buraidah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Berperanglah fi sabilillah dengan menyebut nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, berperanglah dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayit dan janganlah membunuh anak-anak,” (HR Muslim [1731]).
Dari Rabbah bin Rabi’ r.a, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah saw. dalam sebuah peperangan. Beliau melihat orang-orang berkumpul mengelilingi sesuatu. Lalu dia mengutus seseorang untuk melihatnya. Beliau berkata, ‘Coba lihat mengapa mereka berkumpul?’ Tak usang kemudian orang itu kembali dan berkata, ‘Mereka berkumpul menyaksikan mayit seorang perempuan yang terbunuh.’ Beliau berkata, ‘Bukan mereka yang harus dibunuh!’ Ketika itu pasukan dipimpin oleh Khalid bin al-Walid. Lalu Rasulullah saw. mengutus seseorang dan bersabda, ‘Katakanlah kepada Khalid, janganlah membunuh perempuan dan jangan membunuh pegawai/buruh’,” (Shahih, HR Abu Dawud [2669], Ibnu Majah [2842], Ahmad [III/388] dan [488], [IV/178-179] dan [346], al-Hakim [II/127], Ibnu Hibban [4789], Abu Ya’la [1546], ath-Thabrani [4619 dan 4622], al-Baihaqi [IX/82]).
Dari al-Aswad bin Sari’ r.a, ia berkata, “Aku menemui Rasulullah saw. dan ikut berperang bersama beliau, pada waktu itu bertepatan pada waktu Zhuhur. Anggota pasukan bertempur dengan andal sehingga mereka membunuh bawah umur -dalam riwayat lain dengan lafazh dzurriyah-. Sampailah isu itu kepada Rasulullah saw. dia bersabda, ‘Mengapa orang-orang itu melampaui batas dalam berperang sehingga membunuh anak-anak.’ Seorang pria berkata, ‘Wahai Rasulullah, bergotong-royong mereka yaitu bawah umur kaum musyrikin.’ Rasul menjawab, Ingatlah, bergotong-royong orang-orang terbaik dari kau yaitu bawah umur kaum musyrikin.’ Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Ingat, janganlah membunuh anak-anak, janganlah membunuh anak-anak.’ Beliau juga bersabda, ‘Setiap jiwa terlahir di atas fitrah hingga ia bisa mengungkapkan sendiri dengan lisannya apa yang ada dalam hatinya, kemudian kedua orang tuanyalah yang mengakibatkan dia Yahudi atau Nashrani’,” (Shahih, HR an-Nasa’i dalam al-Kubraa [8616], Ahmad [III/435], al-Hakim [II/123] dan al-Baihaqi [lX/77]).
Kesimpulan
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Aku mendapati seorang perempuan yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian dia melarang membunuh kaum perempuan dan bawah umur dalam peperangan” (HR Bukhari [3015] dan Muslim [1744]).
Dalam riwayat lain disebutkan, “Rasulullah saw. mengecam keras pembunuhan terhadap kaum perempuan dan anak-anak,” (HR Bukhari [3014] dan Muslim [1744]).
Dari Buraidah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Berperanglah fi sabilillah dengan menyebut nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, berperanglah dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayit dan janganlah membunuh anak-anak,” (HR Muslim [1731]).
Dari Rabbah bin Rabi’ r.a, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah saw. dalam sebuah peperangan. Beliau melihat orang-orang berkumpul mengelilingi sesuatu. Lalu dia mengutus seseorang untuk melihatnya. Beliau berkata, ‘Coba lihat mengapa mereka berkumpul?’ Tak usang kemudian orang itu kembali dan berkata, ‘Mereka berkumpul menyaksikan mayit seorang perempuan yang terbunuh.’ Beliau berkata, ‘Bukan mereka yang harus dibunuh!’ Ketika itu pasukan dipimpin oleh Khalid bin al-Walid. Lalu Rasulullah saw. mengutus seseorang dan bersabda, ‘Katakanlah kepada Khalid, janganlah membunuh perempuan dan jangan membunuh pegawai/buruh’,” (Shahih, HR Abu Dawud [2669], Ibnu Majah [2842], Ahmad [III/388] dan [488], [IV/178-179] dan [346], al-Hakim [II/127], Ibnu Hibban [4789], Abu Ya’la [1546], ath-Thabrani [4619 dan 4622], al-Baihaqi [IX/82]).
Dari al-Aswad bin Sari’ r.a, ia berkata, “Aku menemui Rasulullah saw. dan ikut berperang bersama beliau, pada waktu itu bertepatan pada waktu Zhuhur. Anggota pasukan bertempur dengan andal sehingga mereka membunuh bawah umur -dalam riwayat lain dengan lafazh dzurriyah-. Sampailah isu itu kepada Rasulullah saw. dia bersabda, ‘Mengapa orang-orang itu melampaui batas dalam berperang sehingga membunuh anak-anak.’ Seorang pria berkata, ‘Wahai Rasulullah, bergotong-royong mereka yaitu bawah umur kaum musyrikin.’ Rasul menjawab, Ingatlah, bergotong-royong orang-orang terbaik dari kau yaitu bawah umur kaum musyrikin.’ Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Ingat, janganlah membunuh anak-anak, janganlah membunuh anak-anak.’ Beliau juga bersabda, ‘Setiap jiwa terlahir di atas fitrah hingga ia bisa mengungkapkan sendiri dengan lisannya apa yang ada dalam hatinya, kemudian kedua orang tuanyalah yang mengakibatkan dia Yahudi atau Nashrani’,” (Shahih, HR an-Nasa’i dalam al-Kubraa [8616], Ahmad [III/435], al-Hakim [II/123] dan al-Baihaqi [lX/77]).
Kesimpulan
Haram hukumnya membunuh wanita, bawah umur dan para buruh/ pekerja/pegawai yang tidak ikut berperang dan membawa senjata untuk berperang. Hal ini telah dinukil secara mutawatir dari wasiat para Khulafa-ur Rasyidin kepada para panglima perang Islam.
Asy-Syaukani berkata dalam NailulAuthaar (VII/73), “Hadits-hadits potongan ini menunjukkan tidak dibolehkannya membunuh kaum perempuan dan anak-anak.”
Asy-Syaukani berkata dalam NailulAuthaar (VII/73), “Hadits-hadits potongan ini menunjukkan tidak dibolehkannya membunuh kaum perempuan dan anak-anak.”
Sumber: republika.co.id, kompas.com, shahihain

Posting Komentar untuk "Islam Tidak Ajarkan Terorisme, Bahkan Dalam Perang Pun Larang Bunuh Perempuan Dan Anak-Anak"