Kelompok Anti-Islam Di Indonesia Kian Berani Jelas, Lawan!!!
Kelompok Anti-Islam di Indonesia Kian Berani & Jelas, Lawan!!!
Kelompok atau orang-orang yang Anti-Islam di Indonesia kian berani & terang-terangan menawarkan dirinya, berkat donasi rezim yang memang ditopang kaum anti-Islam.
Orang-orang anti-Islam ini gampang ditemukan di Twitter dan Facebook. Status mereka terperinci menawarkan mereka tidak suka dengan Islam dan kaum Muslim, sekalipun di antara mereka banyak yang mengaku Muslim.
Kondisi ini bergotong-royong menguntungkan mujahidin Indonesia untuk "membidik" para musuh Islam di Indonesia.
Ajaran Islam menegaskan, umat Islam dilarang memerangi kaum yang erat dengan kaum Muslim. Namun, jikalau kaum anti-Islam menyerang duluan, maka umat Islam dihalalkan memerangi mereka.
Al-Quran menegaskan, kaum Muslim harus memerangi mereka yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kau melampaui batas, alasannya ialah sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 190)
Kasus terbaru ialah perihal munculnya aliran Majelis Ulama Indonesia (MUI) perihal keharaman memakai atribut keagamaan bagi umat Islam.
MUI sebagai wadah ulama dicitrakan negatif, demikian pula Front Pembela Islam (FPI) yang mengawal aliran MUI didesak untuk dibubarkan.
Penulis senior Didien Azhar pun bersuara keras terkait upaya pihak tertentu yang terus mendiskreditkan MUI.
“Benar! Memang aliran ini sengaja dipelintir para buzzers musuh Islam untuk mendiskreditkan MUI dan FPI. #SaveFPI,” tegas Didien di akun Twitter @didienAZHAR.
Menurut, Didien, aliran MUI tersebut ditujukan ke umat Islam yang dipaksa mengenakan atribut natal.
“Fatwa MUI soal ‘atribut natal’ itu ditujukan kepada komunitas Muslim, tidak ada persoalan dengan toleransi beragama. Toleransi itu artinya saling menghormati dan saling menghargai antar-pemeluk agama/keyakinan masing-masing. Bagimu agamamu, bagiku agamaku,” tegas @didienAZHAR.
Sebelumnya, politisi PDIP yang juga tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi menegaskan bahwa aliran MUI merupakan opini, sehingga akan terus ditandingi dengan opini yang lain.
“Fatwa MUI itu opini, akan ditandingi dengan opini yang lain. Mufti Mesir berfatwa, dan al-Azhar berfatwa. Kadang fatwanya sama, tapi kadang beda,” tulis Zuhairi di akun Twitter @zuhairimisrawi.
Senada dengan Zuhairi, tokoh liberal Akhmad Sahal di akun @sahaL_AS me-retweet akun king_odar: “Betul, aliran MUI atau Ulama secara umum tak mengikat. Makanya gerakan mengawal aliran MUI itu lucu. Opini aturan kok pake dikawal.”
Putri Gus Dur, Alissa Wahid turut mengomentari sosialisasi aliran MUI perihal atribut keagamaan yang dilakukan massa Front Pembela Islam di Surabaya.
“Kewajiban pegawanegeri menertibkan yang ingin main hakim sendiri. MUI bukan forum negara, fatwanya bukan aturan positif,” tulis @AlissaWahid.
Sebagian kicauan anti-Islam yang dihimpun Intelijen itu menjadi bab dari bukti mereka telah memerangi Islam, atau setidaknya berusaha melemahkan Islam dan kaum Muslim Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran:
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kau hingga mereka (dapat) mengembalikan kau dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah: 217).
Sumber http://muslimbuzzers.blogspot.com
Kelompok atau orang-orang yang Anti-Islam di Indonesia kian berani & terang-terangan menawarkan dirinya, berkat donasi rezim yang memang ditopang kaum anti-Islam.
Orang-orang anti-Islam ini gampang ditemukan di Twitter dan Facebook. Status mereka terperinci menawarkan mereka tidak suka dengan Islam dan kaum Muslim, sekalipun di antara mereka banyak yang mengaku Muslim.
Kondisi ini bergotong-royong menguntungkan mujahidin Indonesia untuk "membidik" para musuh Islam di Indonesia.
Ajaran Islam menegaskan, umat Islam dilarang memerangi kaum yang erat dengan kaum Muslim. Namun, jikalau kaum anti-Islam menyerang duluan, maka umat Islam dihalalkan memerangi mereka.
Al-Quran menegaskan, kaum Muslim harus memerangi mereka yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Sejak Pilpres 2014, kelompok anti-Islam di Indonesia muncul terang-terangan. Nama-nama menyerupai Ade Armando, Zuhairi Misrawi, Akhmad Sahal, Ulil Abshar Abdalla, dan nama-nama lainnya yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) dan politisi PDIP dan NasDem, terperinci terang-terangan menyarakan perang terhadap Islam dan kaum Muslim. Meskipun mereka mengaku --sekali lagi: hanya mengaku-- sebagai Muslim.
Nama-nama tersebu ialah antek-antek Yahudi dan Kristen yang memang tidak akan pernah suka kepada Islam dan kaum Muslim.
Kasus terbaru ialah perihal munculnya aliran Majelis Ulama Indonesia (MUI) perihal keharaman memakai atribut keagamaan bagi umat Islam.
MUI sebagai wadah ulama dicitrakan negatif, demikian pula Front Pembela Islam (FPI) yang mengawal aliran MUI didesak untuk dibubarkan.
Penulis senior Didien Azhar pun bersuara keras terkait upaya pihak tertentu yang terus mendiskreditkan MUI.
“Benar! Memang aliran ini sengaja dipelintir para buzzers musuh Islam untuk mendiskreditkan MUI dan FPI. #SaveFPI,” tegas Didien di akun Twitter @didienAZHAR.
Menurut, Didien, aliran MUI tersebut ditujukan ke umat Islam yang dipaksa mengenakan atribut natal.
“Fatwa MUI soal ‘atribut natal’ itu ditujukan kepada komunitas Muslim, tidak ada persoalan dengan toleransi beragama. Toleransi itu artinya saling menghormati dan saling menghargai antar-pemeluk agama/keyakinan masing-masing. Bagimu agamamu, bagiku agamaku,” tegas @didienAZHAR.
Sebelumnya, politisi PDIP yang juga tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi menegaskan bahwa aliran MUI merupakan opini, sehingga akan terus ditandingi dengan opini yang lain.
“Fatwa MUI itu opini, akan ditandingi dengan opini yang lain. Mufti Mesir berfatwa, dan al-Azhar berfatwa. Kadang fatwanya sama, tapi kadang beda,” tulis Zuhairi di akun Twitter @zuhairimisrawi.
Senada dengan Zuhairi, tokoh liberal Akhmad Sahal di akun @sahaL_AS me-retweet akun king_odar: “Betul, aliran MUI atau Ulama secara umum tak mengikat. Makanya gerakan mengawal aliran MUI itu lucu. Opini aturan kok pake dikawal.”
Putri Gus Dur, Alissa Wahid turut mengomentari sosialisasi aliran MUI perihal atribut keagamaan yang dilakukan massa Front Pembela Islam di Surabaya.
“Kewajiban pegawanegeri menertibkan yang ingin main hakim sendiri. MUI bukan forum negara, fatwanya bukan aturan positif,” tulis @AlissaWahid.
Sebagian kicauan anti-Islam yang dihimpun Intelijen itu menjadi bab dari bukti mereka telah memerangi Islam, atau setidaknya berusaha melemahkan Islam dan kaum Muslim Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran:
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kau hingga mereka (dapat) mengembalikan kau dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah: 217).
Apakah umat Islam Indonesia akan membisu saja? Umat Islam harus melawan genderang perang yang sudah mereka tabuh itu, lewat media umum juga. Sudah saatnya "buzzer Muslim" bertindak, demikian pula Muslim Cyber Army, demi 'Isy kariiman au mut syahidan!
Ayo, lawan kelompok anti-Islam yang bergotong-royong merupakan perusak sejati NKRI itu!!

Posting Komentar untuk "Kelompok Anti-Islam Di Indonesia Kian Berani Jelas, Lawan!!!"