Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Naskah Khotbah Idul Fitri Di Gunungkidul Yang Sebut Ahok

Naskah Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Sebut Ahok Naskah Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Sebut Ahok
Inilah naskah full Khotbah Idul Fitri yang menjadi #viral yang dilaksanakan di Lapangan Pemerintah Daerah Alun-Alun Wonosari Gunungkidul.

Pelaksanaan: Ahad, 1 Syawal 1438 H / 25 Juni 2017. Tempat: Lapangan Alun2 Pemerintah Daerah Wonosari. Waktu: Pukul 06.30 WIB – selesai. Judul: Persatuan dan kesatuan Indonesia. Oleh: Ustadz Dr. H. Muhammad Ichsan Lc, MA ( Dosen UMY).

Media pro-Ahok memberitakan, seakan-akan jamaah bubar begitu khotib menyebut masalah Ahok dalam khotbahnya. Padahal, kondisi jamaah normal, tidak ada masalah. 


Bagian materi/isi khotbah yang menyebut duduk masalah Ahok yaitu sebagai berikut:

Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dieksekusi seberat-beratnya alasannya menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun alasannya Ahok jelas-jelas didukung oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 yaitu buktinya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu daerah sebanyak 7 juta orang lebih dalam agresi super tenang untuk menuntut ditegakkannya aturan terhadap penista agama.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam masalah penistaan agama, dan telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga. Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak aturan dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan abjad terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa aturan selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan penggerak Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.

Sebagai contoh, dikala Aksi Bela Islam 212 masih berdemo sesudah maghrib mereka eksklusif dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo hingga larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya eksklusif diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau menggunakan atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas
.

Naskah Full Khotbah Idul Fitri

Ma’ashiral muslimin dan muslimat hafizakumullah. 
Pagi hari ini, kita umat Islam bergembira menyambut hari raya Idul Fitri. Pagi hari ini, kita bersyukur kepada Allah ta’ala alasannya berkat taufik dan hidayahnya kita sanggup menyempurnakan ibadah puasa dan serangkaian ibadah-ibadah lainnya di bulan bulan pahala yang gres saja meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pagi ini kita memuji Allah, memuliakan Allah, mengagungkan Allah, antara lain dengan salat hari raya Idul Fitri dan meluangkan takbir: Allah Akbar, Allah Akbar.

Alangkah indahnya hari ini. Alangkah mulianya hari ini. Alangkah gembiranya kita pada hari ini, alasannya sebulan penuh kita telah dibina dan dididik dalam madrasah Ramadan. Diharapkan, pendidikan dan pengajaran yang kita peroleh pada bulan bulan pahala tersebut sanggup kita jadikan sebagai bekal untuk menjadi umat yang besar lagi bermartabat.

Para hadiri dan hadirat rahimakumullah.

Marilah kita bersyukur kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, bangsa Indonesia yang kita cintai ini dikaruniai Allah dengan aneka macam macam anugerah. Mulai dari pulau yang banyak jumlahnya, tanah yang subur, iklim yang tidak ekstrim, hingga suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Dengan kurnia Allah ta’ala semua itu sanggup disatukan olehfounding fathers atau pendiri bangsa kita, sehingga menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, menjadi satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nenek moyang kita, para pendiri dan jagoan bangsa, telah berkorban dengan keringat mereka, darah mereka, harta mereka dan bahkan dengan jiwa raga mereka untuk mempersatukan bangsa ini dan memerdekakannya dari para penjajah yang telah merampas kemerdekaan kita berabad-abad lamanya.

Sesudah merdeka, kita bangsa Indonesia, menikmati hasil perjuangan, pengorbanan dan keringat serta darah para jagoan tersebut. Kita menghirup udara bebas dan berusaha membangun kembali bangsa itu dari kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan dalam aneka macam bidang.

Presiden demi presiden silih berganti memimpin negeri ini. Pemerintah demi pemerintah bertukar, kita tetap hidup aman, damai, tenteram, dan sentosa sebagai sebuah bangsa yang besar. Namun sayangnya, banyak orang merasakan, selama ini kita belum pernah khawatir terhadap persatuan bangsa ini sebagaimana (terjadi) dalam rezim ini.

Selama ini kita belum pernah cemas terhadap kesatuan negara ini menyerupai dalam pemerintahan ini. Hal ini alasannya nikmat persatuan dan kesatuan bangsa ini beberapa waktu yang kemudian hampir terkoyak dengan masalah penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta sewaktu itu. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pesta demokrasi yaitu Pilkada Jakarta.

Masyarakat terpecah menjadi dua, pendukung Ahok atau Ahokers, dan masyarakat yang menghendaki supaya Ahok dieksekusi seberat-beratnya alasannya menistakan agama. Meskipun yang anti Ahok banyak sekali jumlahnya, baik dari Jakarta maupun luar Jakarta, namun alasannya Ahok jelas-jelas didukung oleh para taipan, partai pemerintah dan Polri, maka terjadilah perlawanan yang seru. Aksi Bela Islam 411 dan 212 yaitu buktinya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, umat Islam berkumpul di suatu daerah sebanyak 7 juta orang lebih dalam agresi super tenang untuk menuntut ditegakkannya aturan terhadap penista agama.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Meskipun Ahok telah divonis bersalah dalam masalah penistaan agama, dan telah kalah dalam Pilkada Jakarta, namun kegaduhan nasional masih terasa. Luka permusuhan dan perpecahan masyarakat masih menganga. Apalagi dua tahun lagi suasana akan semakin memanas lagi dengan adanya Pemilu. Hingga hari ini masih ada usaha-usaha membenturkan umat Islam dengan dengan Pancasila. Umat Islam yang berbeda pendapat dengan pemerintah dan penegak aturan dianggap anti-pancasila, anti-bhineka tunggal ika dan anti-NKRI. Masih ada pembunuhan abjad terhadap tokoh-tokoh Islam, meskipun selalu dinafikan dan dibantah. Masih terasa aturan selalu tajam terhadap ulama, tokoh, dan penggerak Islam, dan terhadap umat Islam pada umumnya, tapi tumpul terhadap Ahok dan para pendukungnya.

Sebagai contoh, dikala Aksi Bela Islam 212 masih berdemo sesudah maghrib mereka eksklusif dibubarkan secara paksa dengan gas air mata, sementara para pendukung Ahok dibiarkan berdemo hingga larut malam di depan LP Cipinang. Ketika bendera kita ditulis kalimah laa ilaaha illallah, penulisnya eksklusif diciduk, sementara bendera mereka sering ditulisi tulisan-tulisan lain tapi dibiarkan. Ketika akan berdemo sebagian tokoh Islam ditangkap dengan tuduhan makar, sementara yang terang-terang akan makar di Papua atau menggunakan atribut PKI yang terlarang justru dibiarkan bebas.

Kaum muslimin dan muslimathafizakumullah.

Sekarang yaitu era keterbukaan. Masyarakat hari ini sudah cerdas. Masyarakat hari ini susah untuk dibohongi. Jika pemerintah korup dan bertindak sewenang-wenang, niscaya mereka mengetahuinya. Jika penegak aturan tidak adil dan babat pilih, niscaya mereka merasakannya. Meskipun pemerintah dan penegak aturan cerdik menyulap fakta, memelintir kata dan menciptakan rekayasa, niscaya rakyat akan menyadarinya. Meskipun media massa, baik cetak maupun elektronik, dikuasai oleh para taipan dan konglomerat, umat Islam masih memiliki senjata lain yaitu medsos atau media sosial. Umat Islam dipimpin oleh para ulama dan penggerak Islam akan bergerak dengan satu kata, lawan! Lawan kezaliman! Lawan kebohongan! Lawan pembodohan!

Allah Akbar, Allah Akbar, laa ilaaha illallah, Wallah akbar, Allah akbar, Wa lillahil hamd.

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Apakah kebencian antara sesama masyarakat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita biarkan? Apakah permusuhan antara pemerintah dan rakyat akan kita diamkan? Apakah boleh perpecahan antara umat kita biarkan? Tidak! Kita dilarang membiarkannya! Sungguh kita dilarang membiarkannya! Karena kita di Indonesia ini bersaudara. Kita yaitu saudara sebangsa. Kita yaitu saudara sesama manusia. Lebih dari itu, kebanyakan kita yaitu saudara seagama.

Orang-orang yang beriman itu bergotong-royong bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kau menerima rahmat (QS. Al-Hujurat ayat 10).

Kaum Muslimin dan Muslimat hafizakumullah.

Jangan pertanyakan kecintaan umat Islam terhadap Indonesia. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada agamanya, tanah airnya, bangsanya, negerinya, budayanya. Jangan ragukan betapa umat Islam sangat cinta kepada persatuan, perdamaian, dan keamanan. Sejarah mengambarkan demi kemerdekaan Indonesia, umat Islam bangun mengorbankan jiwa raganya melawan penjajah. Demi persatuan dan kesatuan Indonesia, umat Islam membuang 7 kata sakti dalam Piagam Jakarta. Demi menjaga NKRI dan merangkul umat lainnya, umat Islam mau mendapatkan pancasila sebagai dasar negara.

Maka sungguh menyakitkan tuduhan-tuduhan yang menyampaikan bahwa kita umat Islam anti-pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan, radikal dan teroris. Bagaimana umat Islam anti-pancasila sementara pancasila yaitu hadiah umat Islam untuk bangsa ini? Apakah berbeda pendapat dengan presiden bisa dianggap anti-pancasila? Apakah berbeda pendapat dengan pemerintah bisa disebut anti-NKRI? Apakah berbeda pendapat dengan penegak aturan bisa dituduh anti-kebinekaan?

Tuduhan-tuduhan ini menyakitkan. Tuduhan-tuduhan ini membangkitkan amarah. Tuduhan-tuduhan ini memicu perpecahan. Marilah kita akhiri kegaduhan nasional ini. Marilah kita akhiri kebencian ini. Marilah kita akhiri permusuhan ini. Sungguh masyarakat yang gaduh, saling membenci dan bermusuhan tidak akan bisa membangun, tidak akan bisa maju, tidak akan bisa bersaing di era persaingan ketat antara negara-negara dunia menyerupai kini ini. Berpecah belah itu mudah. Bersatu padu itu susah. Oleh alasannya itu, persatuan itu mahal harganya. Persatuan itu perlu diusahakan. Persatuan itu perlu dijaga. Bersatu padu itu yaitu perintah Allah dan bercerai berai itu yaitu larangan Allah.

“Dan berpeganglah kau semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kau bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu dikala kau dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, kemudian menjadilah kau alasannya nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kau telah berada di tepi jurang neraka, kemudian Allah menyelamatkan kau dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, biar kau menerima petunjuk”. (QS. Ali Imran ayat 103)

Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.

Marilah kita sadari dengan sesadar-sadarnya, Indonesia yaitu rumah besar kita. Di dalamnya ada orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya. Di dalamnya ada penduduk beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di dalamnya ada bermacam-macam bahasa, moral istiadat, dan kebudayaan. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita rawat biar menjadi nada simfoni yang serasi dan saling melengkapi. Keragaman dan perbedaan ini marilah kita pelihara biar menjadi aneka bunga di taman yang indah. Keragaman dan perbedaan ini jangan dimusuhi dan jangan dijadikan sebagai sumber permusuhan.

Hal terpenting untuk merawat keragaman dan perbedaan ini ialah hendaknya kita semua saling menghormati, saling menghargai dan menjaga diri dari fitnah,namimah atau langgar domba, hasad, ujaran kebencian, penghinaan, dan kata-kata keji serta caci maki, baik secara eksklusif maupun media sosial. Selain itu, aturan harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Hukum harus menjadi panglima. Hukum harus ditaati baik oleh rakyat maupun penegak aturan itu sendiri. Pemerintah dan penegak aturan hendaknya berlaku adil terhadap seluruh masyarakat dan tidak babat pilih. Seharusnya sudah tidak ada lagi kriminalisasi dan pembunuhan abjad terhadap para ulama dan kegiatan Islam. Semestinya sudah dilarang ada lagi tuduhan semena-mena terhadap umat Islam bahwa mereka makar, radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-NKRI dan anti-kebinekaan.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.

Kita tidak ingin apa yang terjadi di Timur Tengah terjadi di Indonesia. Kita tidak ingin Indonesia berperang sesama sendiri dan terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang gampang dikuasai gila dan aseng. Justru kita bangsa Indonesia sebagai bangsa dan umat Islam besar dunia, seharusnya menjadi rujukan dan teladan untuk negara-negara lainnya. Kita yaitu bangsa besar yang seharusnya dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, alasannya melakukan prinsip-prinsip toleransi dan keadilan dalam kebinekaan.

Hal ini senada dengan lirik lagu Indonesia Pusaka berikut:

Indonesia tanah air beda
Pusaka awet nan jaya
Indonesia semenjak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana daerah lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai simpulan menutup mata


Marilah kita bersatu padu menimbulkan Indonesia ini sebagai negeri makmur yang diridai Allah ta’ala. Marilah kita pelihara persatuan dan kesatuan Indonesia biar menjadi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.

Hiduplah negeriku, hiduplah bangsaku, hiduplah Indonesia!

Allah akbar, Allah akbar. Laa ilaaha illalLah. Wallah akbar. Allah akbar. Wa lilLahil hamd.
Kaum muslimin dan muslimat hafizakumullah.

Pagi ini kita boleh bergembira, tapi ingatlah bahwa di antara sanak keluarga kita atau sobat kita kini ini ada yang sedang menderita. Pagi ini kita boleh bersuka ria, tapi ketahuilah bahwa di antara tetangga atau masyarakat kita hari ini banyak yang sedang sengsara. Pagi ini kita boleh tersenyum bahagia, tapi sadarilah bahwa umat Islam di seluruh pelosok dunia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Saudara-saudara kita di Palestina, Syria, selatan Thailand, selatan Filipina, dan Myanmar masih memerlukan sumbangan dan solidaritas kita. Sungguh saudara-saudara kita di Gazza dan Rohingya kini ini memerlukan uluran tangan kita semua.

Bergembiralah, bersukarialah dan berhiburlah sekedarnya, tanpa melampaui batas dan melanggar tuntutan agama. Pergunakanlah peluang Hari Raya ini untuk mencapai keridaan Allah dengan mengunjungi kedua ibu bapak, sanak keluarga, jiran tetangga, para sobat dan rekan-rekan. Pereratkan silaturrahim dan marilah kita saling memaaf-maafkan. Hiburlah mereka yang kini sedang menderita. Santunilah bawah umur yatim, kaum fakir miskin, para janda,ibnu sabil dan mereka yang menyambut hari raya kali ini dalam keadaan daif lagi susah. Hargailah warga tua. Hormatilah jiran tetangga. Perkokohkan persaudaraan dan perpaduan. Jadilah umat yang mursali lagi penyayang. Umat yang dikagumi lagi diperhitungkan.

Akhirnya wahai kaum muslimin dan muslimat sekalian, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga kehidupan kita di dunia ini semakin baik dan berkualitas, dan kelak kita dipanggil menghadap Allah dalam keadaanhusnul khatimah. 

Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf, kami yaitu hamba-hambaMu yang banyak menciptakan dosa. Bahkan kami yaitu hamba-hambaMu yang gembira dengan dosa-dosa dan senantiasa pembangkang dan menangguhkan taubat. Kini kami mengakui segala dosa-dosa kami. Kini kami menghalalkan hati kami menengadahkan tangan kami. Memanjatkan doa kami untuk memohon keampunan-Mu. Oleh alasannya itu, ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa kami, maafkanlah keterlanjuran kami dan terimalah taubat kami.

Ya Allah Yang Maha Menyatukan hati, sucikanlah hati kami, terangilah hati kami, dan rukunkanlah di antara hati kami. Kokohkanlah persatuan kami, perbaikilah kekerabatan di antara kami. Jadikalah kami kumpulan anak muda yang menghormati orang tua, dan kumpulan orang renta yang mengasihi anak muda. Jadikanlah kami penduduk negeri yang saling menghormati, mengasihi dan bertoleransi.

Ya Allah Yang Maha memelihara sesama jiwa, peliharalah kami dari benih-benih kebencian, kedengkian dan perpecahan. Hindarkan kami dari kezaliman, kefasikan, dan kemunafikan. Dan jauhkan kami daripada sifat sombong, garang dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ya Allah Yang Maha Bijaksana, kurniakan kepada kami pemimpin-pemimpin negeri yang takut kepadaMu dan mengasihi kami. Pemimpin-pemimpin yang membawa kami kepada kesejahteraan duniawi dan menyampaikan kepada kami jalan menuju sorgaMu. Pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk masalahat kami dan kebahagian kami dan bekerja untuk menggapai kasih sayangMu.

Ya Allah Yang Maha Pengasih tiada pilih kasih. Maha Penyayang sayangNya tiada terbilang, berilah kami jalan keluar bagi semua krisis dan duduk masalah yang membelenggu kami. Angkatlah kami dari keterpurukan, kemiskinan, dan kebodohan. Peliharalah kami dari segala maksiat terhadapMu.

Ya Allah yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya, yang menyambut orang berdosa apabila kembali dengan taubatnya, yang mengijabah segala doa hambaNya, kabulkanlah doa kami. Perkenankanlah permohonan kami. Penuhilah cita-cita kami.

Demikian Naskah Khotbah Idul Fitri di Gunungkidul yang Sebut Ahok dan menjadi viral.
Sumber: Sang Pencerah


Sumber http://muslimbuzzers.blogspot.com

Posting Komentar untuk "Naskah Khotbah Idul Fitri Di Gunungkidul Yang Sebut Ahok"