Pengertian Dan Jenis-Jenis Adat Baik Vs Adat Buruk
Pengertian dan Jenis-Jenis Akhlak Baik vs Akhlak Buruk. Mukmin paling tepat imannya ialah yang paling mulia akhlaknya.
AKHLAK atau budi pekerti yakni abjad yang menjadi dasar sikap. Akhlak tempatnya di dalam hati. Akhlak yakni “sentral komando” sikap manusia.
Sumber http://muslimbuzzers.blogspot.com
Karenanya, adat menjadi “sasaran utama” risalah Islam. Rasulullah Saw menegaskan: “Sesungguhnya saya diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan adat (manusia)”.
Akhlak yakni penentu baik-buruk sikap seseorang. Fondasi adat yang membawa kebaikan amal perbuatan yakni dzikrullah, yakni selalu mengingat Allah SWT dalam segala posisi dan kondisi, sehingga keridhaan-Nya (mardhotillah) menjadi teladan perilaku.
Akhlak yakni penentu baik-buruk sikap seseorang. Fondasi adat yang membawa kebaikan amal perbuatan yakni dzikrullah, yakni selalu mengingat Allah SWT dalam segala posisi dan kondisi, sehingga keridhaan-Nya (mardhotillah) menjadi teladan perilaku.
Dzikrullah yakni dasar adat mulia, bersama sifat pemaaf, suka mengajak kepada kebenaran, berpaling dari orang-orang bodoh, suka berlindung kepada Allah SWT dari godan setan (Q.S. 7:199-201).
Jenis-Jenis Akhlak
Jenis-Jenis Akhlak
Ada dua macam akhlak: adat mulia (akhlaqul karimah) atau adat terpuji (akhlaqul mahmudah) dan adat tercela (akhlaqul madzmumah). Akhlak mulia yakni cerminan kesungguhan iman. Sebaliknya, adat tercela merupakan refleksi lemahnya keimanan.
“Seorang mukmin yang paling tepat imannya ialah yang paling mulia akhlaknya” (HR Tirmidzi).
Akhlak mulia --disebut pula husnul khuluq (perangai baik)-- yakni segala sifat, watak, dan sikap yang sangat disukai Allah SWT dan disukai pula oleh manusia. Akhlak mulia wajib dimiliki dan diamalkan. Tergolong adat mulia antara lain sebagai berikut:
1.Berbicara yang baik.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (jika tidak demikian) hendaklah diam” (H.R. Bukhari dan Muslim).
“Seorang mukmin tidak menuduh, melaknat, tidak berkata kotor, dan tidak mencela” (HR Tirmidzi).
Ciri-ciri pembicaraan yang baik yakni isinya bermanfaat, mengandung hikmah atau kebajikan, menciptakan senang pendengarnya, atau tidak menyakiti hati orang lain atau tidak menciptakan orang lain marah.
Pembicaraan yang baik juga bercirikan penggunaan kata-kata yang benar, baku, atau sesuai kadiah bahasa yang berlaku (qaulan sadida, Q.S. 4:9), kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau gampang dimengerti (qaulan baligha, Q.S. 4:63), serta mengunakan kata-kata yang santun, lemah-lembut, atau tidak berangasan dan tidak vulgar (qaulan karima, Q.S. 17:23).
2.Berkata jujur atau benar (shidqi).
“Hendaklah kau berpegang pada kebenaran (shidqi) alasannya yakni bahwasanya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
“Katakanlah kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR Ibnu Hibban).
3.Malu (Haya’).
“Malu itu sebagian dari iman” (HR Muttafaq ‘Alaih).
“Sesungguhnya sebagian yang didapatkan insan dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah ‘Jika kau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR Bukhari).
Malu yakni perasaan untuk tidak ingin direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu yakni duduk kasus harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama yakni malu kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan-Nya. Malu kepada insan harus dalam konteks malu kepada-Nya.
4.Rendah Hati (Tawadhu’).
Rendah hati yakni perasaan inferior, lemah, tidak punya kekuatan atau keistimewaan apa-apa dan kecil di hadapan Allah Yang Mahabesar. Rendah hati akan menciptakan seseorang tidak berlaku sombong atau takabur, tidak memandang dirinya mulia. Fadhil bin Iyadh mengatakan, tawadhu’ ialah tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun kebenaran itu tiba dari seorang anak kecil dan orang paling bodoh.
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati...” (Q.S. Al-Furqon:63).
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku: hendaklah kau merendahkan hati supaya tidak ada yang saling melewati batas dan tidak saling menyombongkan diri” (HR Muslim).
“Tidaklah seseorang rendah hati melainkan Allah tinggikan derajatnya” (HR Bukhari dan Muslim).
5.Senyum/Manis Muka.
Senyum yakni suatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah. Rasulullah Saw sangat menganjurkan umatnya semoga murah senyum, atau bermuka manis. Menyenangkannya senyum sanggup kita rasakan tatkala melihat keramahan orang lain pada kita. Sebaliknya, sukakah kita melihat orang cemberut dan bermuka masam terhadap kita?
“Kamu tidak sanggup meratai (memberi semua) insan dengan harta-hartamu, tetapi hendaklah bermanis muka (bastul wajhi) dan perangai yang baik dari kau meratai mereka” (HR Abu Ya’la).
"Janganlah meremehkan suatu kebajikan sedikit pun, walau hanya sekadar menyambut mitra dengan muka manis" (HR Muslim)
"Senyummu untuk saudaramu yakni sedekah" (HR Bukhari).
6.Sabar
Bersabar dalam pergaulan yakni sifat mukmin sejati. Dalam bergaul kita menemui banyak orang dengan ragam tabiat dan perilakunya: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan; ada yang pemarah dan angkuh, ada pula yang pemaaf dan rendah hati. Terhadap yang tidak menyenangkan atau menyebalkan, juga yang suka mengganggu, kita diharuskan bersabar menghadapi sikap mereka.
“Mukmin yang bergaul dengan insan dan sabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan insan dan tidak sabar atas gangguan mereka” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Sabar merupakan jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT di samping shalat. "Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan bahwasanya Allah bersama orang-orang yang sabar" (Q.S. 2:153).
Dalam pengertian dan pengamalan keseharian, sabar cenderung berarti "menahan emosi", "menahan marah", atau "menahan diri" untuk tidak tergesa-gesa bertindak mengikuti cita-cita perasaan. Imam Al-Ghazali mengatakan, "sabar yakni suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya yakni atas dorongan pedoman agama".
Dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw mengakui adanya tingkatan-tingkatan kesabaran, yaitu (1) sabar dalam menghadapi musibah, (2) sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT, dan (3) sabar dalam menahan diri untuk tidak melaksanakan maksiat. Sabar yang pertama merupakan kesabaran terendah, yang kedua merupakan tingkat pertengahan, dan yang ketiga merupakan kesabaran tertinggi (HR Ibnu Abi ad-Dunia).
Sabar atas peristiwa alam (shabr 'ala al-mushibah) maksudnya yakni bersikap pasrah atau berserah diri (tawakal) pada Allah SWT dikala menghadapi atau mengalami suatu musibah. Sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT (shabr 'ala ath-tha'ah) maksudnya yakni bersikap sabar atau "siap menderita" dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Sabar dalam menahan diri untuk tidak melaksanakan maksiat (shabr 'ala al-ma'shiyah) maksudnya yakni menahan diri dari segala godaan dan cobaan yang sanggup membawa ke dalam perbuatan maksiat atau dosa.
6.Kuat atau Tahan Banting.
“Mukmin yang besar lengan berkuasa lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR Muslim).
Kuat artinya mempunyai ketahanan mental dan fisik yang tinggi. Tidak gampang putus asa, tidak suka mengeluh, dan sehat jasmani-rohani. Kuat juga sanggup dimaknai unggul dan berkualitas. “Janganlah berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir” (Q.S. 12:87).
7.Pemaaf, Tidak Dendam.
Memaafkan kesalahan insan (‘afina ‘aninnas) dan menahan amarah yakni ciri orang bertakwa (Q.S. 3:134).
“Allah tidak akan menambah seseorang yang suka memberi maaf melainkan dengan kemuliaan” (HR Muslim).
“Bersikaplah pemaaf maka Allah akan memuliakanmu” (HR Ibnu Abi Dunya).
“Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang paling menaruh dendam-kesumat” (HR Bukhari dan Muslim).
“Maafkanlah orang yang menzhalimimu” (HR Ahmad dan Thabrani).
8.Menahan Amarah.
Marah sanggup membawa malapetaka. Orang sedang murka dikuasai hawa nafsu dan setan. Pikirannya menjadi tidak jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. Tentu hal itu sanggup mendorong orang yang sedang murka itu, jikalau tidak sanggup mengendalikan diri, pada perbuatan yang akan disesalinya, mengikuti hawa nafsu, lepas kedali diri.
"Bukanlah orang yang gagah perkasa namanya ia yang besar lengan berkuasa bergulat, tetapi yang disebut gagah perkasa itu ialah orang yang sanggup mengendalikan nafsunya (dirinya) dikala sedang marah" (HR Bukhari dan Muslim).
Untuk meredam marah, Rasulullah Saw mengajarkan semoga berwudhu.
"Sesungguhnya murka itu datangnya dari setan, dan setan itu dijadikan dari api. Sesungguhnya api itu sanggup dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antaramu marah, berwudhulah" (H.R. Abu Daud).
9.Zuhud
Ketika seorang sahabat meminta nasihat perihal amal yang disukai Allah dan manusia, Nabi Saw menegaskan: “Berzuhudlah dari dunia, pasti Allah menyukaimu dan zuhudlah dari apa yang di tangan manusia, pasti insan menyukaimu” (HR Ibnu Majah).
Zuhud yakni sikap tidak terlalu menyayangi dunia, bahkan membencinya dalam batas-batas yang wajar. Menurut Nabi Muhammad Saw: “Zuhud di dunia tidak mengharamkan yang halal dan tidak membuang harta...” (HR Tirmidzi).
Zuhud yakni sikap sederhana atau proporsional terhadap kenikmatan dunia. Kecintaannya terhadap embel-embel dunia (harta, tahta) tidak berlebihan. “Celakalah penyembah dinar dan dirham dan kain beludru...” (HR Bukhari). Zuhud menciptakan seseorang tidak merasa senang berlebihan mendapatkan harta dan merasa murung kehilangan sesuatu (Q.S. Al-Hadid:23).
10.Qona’ah
Qona’ah yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang dan senantiasa mensyukuri pemberian-Nya, sedikit ataupun banyak.
“Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya (hatinya)” (HR Bukhari dan Muslim).
“Sungguh berbahagia orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana dan tenang mendapatkan apa yang ada” (HR Tirmidzi).
“Sungguh berbahagialah orang yang yelah masuk Islam dan diberi rezeki cukup, kemudian merasa cukup terhadap apa-apa yang diberikan Allah kepadanya” (HR Muslim).
“Seungguh berbahagialah seorang Muslim yang diberi kecukupan rezeki dan rela mendapatkan sumbangan Allah” (HR Muslim).
11.Wara’
Wara’ yakni menjauhi barang syubhat alasannya yakni takut jatuh kepada keharaman. Syubhat sendiri artinya tidak sanggup dipastikan halal-haramnya (berada antara halal dan haram).
“Seorang mukmin yang paling tepat imannya ialah yang paling mulia akhlaknya” (HR Tirmidzi).
Pengertian dan Jenis Akhlak Mulia
Akhlak mulia --disebut pula husnul khuluq (perangai baik)-- yakni segala sifat, watak, dan sikap yang sangat disukai Allah SWT dan disukai pula oleh manusia. Akhlak mulia wajib dimiliki dan diamalkan. Tergolong adat mulia antara lain sebagai berikut:
1.Berbicara yang baik.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (jika tidak demikian) hendaklah diam” (H.R. Bukhari dan Muslim).
“Seorang mukmin tidak menuduh, melaknat, tidak berkata kotor, dan tidak mencela” (HR Tirmidzi).
Ciri-ciri pembicaraan yang baik yakni isinya bermanfaat, mengandung hikmah atau kebajikan, menciptakan senang pendengarnya, atau tidak menyakiti hati orang lain atau tidak menciptakan orang lain marah.
Pembicaraan yang baik juga bercirikan penggunaan kata-kata yang benar, baku, atau sesuai kadiah bahasa yang berlaku (qaulan sadida, Q.S. 4:9), kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau gampang dimengerti (qaulan baligha, Q.S. 4:63), serta mengunakan kata-kata yang santun, lemah-lembut, atau tidak berangasan dan tidak vulgar (qaulan karima, Q.S. 17:23).
2.Berkata jujur atau benar (shidqi).
“Hendaklah kau berpegang pada kebenaran (shidqi) alasannya yakni bahwasanya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
“Katakanlah kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR Ibnu Hibban).
3.Malu (Haya’).
“Malu itu sebagian dari iman” (HR Muttafaq ‘Alaih).
“Sesungguhnya sebagian yang didapatkan insan dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah ‘Jika kau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR Bukhari).
Malu yakni perasaan untuk tidak ingin direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu yakni duduk kasus harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama yakni malu kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan-Nya. Malu kepada insan harus dalam konteks malu kepada-Nya.
4.Rendah Hati (Tawadhu’).
Rendah hati yakni perasaan inferior, lemah, tidak punya kekuatan atau keistimewaan apa-apa dan kecil di hadapan Allah Yang Mahabesar. Rendah hati akan menciptakan seseorang tidak berlaku sombong atau takabur, tidak memandang dirinya mulia. Fadhil bin Iyadh mengatakan, tawadhu’ ialah tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun kebenaran itu tiba dari seorang anak kecil dan orang paling bodoh.
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati...” (Q.S. Al-Furqon:63).
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku: hendaklah kau merendahkan hati supaya tidak ada yang saling melewati batas dan tidak saling menyombongkan diri” (HR Muslim).
“Tidaklah seseorang rendah hati melainkan Allah tinggikan derajatnya” (HR Bukhari dan Muslim).
5.Senyum/Manis Muka.
Senyum yakni suatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah. Rasulullah Saw sangat menganjurkan umatnya semoga murah senyum, atau bermuka manis. Menyenangkannya senyum sanggup kita rasakan tatkala melihat keramahan orang lain pada kita. Sebaliknya, sukakah kita melihat orang cemberut dan bermuka masam terhadap kita?
“Kamu tidak sanggup meratai (memberi semua) insan dengan harta-hartamu, tetapi hendaklah bermanis muka (bastul wajhi) dan perangai yang baik dari kau meratai mereka” (HR Abu Ya’la).
"Janganlah meremehkan suatu kebajikan sedikit pun, walau hanya sekadar menyambut mitra dengan muka manis" (HR Muslim)
"Senyummu untuk saudaramu yakni sedekah" (HR Bukhari).
6.Sabar
Bersabar dalam pergaulan yakni sifat mukmin sejati. Dalam bergaul kita menemui banyak orang dengan ragam tabiat dan perilakunya: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan; ada yang pemarah dan angkuh, ada pula yang pemaaf dan rendah hati. Terhadap yang tidak menyenangkan atau menyebalkan, juga yang suka mengganggu, kita diharuskan bersabar menghadapi sikap mereka.
“Mukmin yang bergaul dengan insan dan sabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan insan dan tidak sabar atas gangguan mereka” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Sabar merupakan jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT di samping shalat. "Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan bahwasanya Allah bersama orang-orang yang sabar" (Q.S. 2:153).
Dalam pengertian dan pengamalan keseharian, sabar cenderung berarti "menahan emosi", "menahan marah", atau "menahan diri" untuk tidak tergesa-gesa bertindak mengikuti cita-cita perasaan. Imam Al-Ghazali mengatakan, "sabar yakni suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya yakni atas dorongan pedoman agama".
Dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw mengakui adanya tingkatan-tingkatan kesabaran, yaitu (1) sabar dalam menghadapi musibah, (2) sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT, dan (3) sabar dalam menahan diri untuk tidak melaksanakan maksiat. Sabar yang pertama merupakan kesabaran terendah, yang kedua merupakan tingkat pertengahan, dan yang ketiga merupakan kesabaran tertinggi (HR Ibnu Abi ad-Dunia).
Sabar atas peristiwa alam (shabr 'ala al-mushibah) maksudnya yakni bersikap pasrah atau berserah diri (tawakal) pada Allah SWT dikala menghadapi atau mengalami suatu musibah. Sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT (shabr 'ala ath-tha'ah) maksudnya yakni bersikap sabar atau "siap menderita" dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Sabar dalam menahan diri untuk tidak melaksanakan maksiat (shabr 'ala al-ma'shiyah) maksudnya yakni menahan diri dari segala godaan dan cobaan yang sanggup membawa ke dalam perbuatan maksiat atau dosa.
6.Kuat atau Tahan Banting.
“Mukmin yang besar lengan berkuasa lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR Muslim).
Kuat artinya mempunyai ketahanan mental dan fisik yang tinggi. Tidak gampang putus asa, tidak suka mengeluh, dan sehat jasmani-rohani. Kuat juga sanggup dimaknai unggul dan berkualitas. “Janganlah berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir” (Q.S. 12:87).
7.Pemaaf, Tidak Dendam.
Memaafkan kesalahan insan (‘afina ‘aninnas) dan menahan amarah yakni ciri orang bertakwa (Q.S. 3:134).
“Allah tidak akan menambah seseorang yang suka memberi maaf melainkan dengan kemuliaan” (HR Muslim).
“Bersikaplah pemaaf maka Allah akan memuliakanmu” (HR Ibnu Abi Dunya).
“Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang paling menaruh dendam-kesumat” (HR Bukhari dan Muslim).
“Maafkanlah orang yang menzhalimimu” (HR Ahmad dan Thabrani).
8.Menahan Amarah.
Marah sanggup membawa malapetaka. Orang sedang murka dikuasai hawa nafsu dan setan. Pikirannya menjadi tidak jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. Tentu hal itu sanggup mendorong orang yang sedang murka itu, jikalau tidak sanggup mengendalikan diri, pada perbuatan yang akan disesalinya, mengikuti hawa nafsu, lepas kedali diri.
"Bukanlah orang yang gagah perkasa namanya ia yang besar lengan berkuasa bergulat, tetapi yang disebut gagah perkasa itu ialah orang yang sanggup mengendalikan nafsunya (dirinya) dikala sedang marah" (HR Bukhari dan Muslim).
Untuk meredam marah, Rasulullah Saw mengajarkan semoga berwudhu.
"Sesungguhnya murka itu datangnya dari setan, dan setan itu dijadikan dari api. Sesungguhnya api itu sanggup dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antaramu marah, berwudhulah" (H.R. Abu Daud).
9.Zuhud
Ketika seorang sahabat meminta nasihat perihal amal yang disukai Allah dan manusia, Nabi Saw menegaskan: “Berzuhudlah dari dunia, pasti Allah menyukaimu dan zuhudlah dari apa yang di tangan manusia, pasti insan menyukaimu” (HR Ibnu Majah).
Zuhud yakni sikap tidak terlalu menyayangi dunia, bahkan membencinya dalam batas-batas yang wajar. Menurut Nabi Muhammad Saw: “Zuhud di dunia tidak mengharamkan yang halal dan tidak membuang harta...” (HR Tirmidzi).
Zuhud yakni sikap sederhana atau proporsional terhadap kenikmatan dunia. Kecintaannya terhadap embel-embel dunia (harta, tahta) tidak berlebihan. “Celakalah penyembah dinar dan dirham dan kain beludru...” (HR Bukhari). Zuhud menciptakan seseorang tidak merasa senang berlebihan mendapatkan harta dan merasa murung kehilangan sesuatu (Q.S. Al-Hadid:23).
10.Qona’ah
Qona’ah yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang dan senantiasa mensyukuri pemberian-Nya, sedikit ataupun banyak.
“Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya (hatinya)” (HR Bukhari dan Muslim).
“Sungguh berbahagia orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana dan tenang mendapatkan apa yang ada” (HR Tirmidzi).
“Sungguh berbahagialah orang yang yelah masuk Islam dan diberi rezeki cukup, kemudian merasa cukup terhadap apa-apa yang diberikan Allah kepadanya” (HR Muslim).
“Seungguh berbahagialah seorang Muslim yang diberi kecukupan rezeki dan rela mendapatkan sumbangan Allah” (HR Muslim).
11.Wara’
Wara’ yakni menjauhi barang syubhat alasannya yakni takut jatuh kepada keharaman. Syubhat sendiri artinya tidak sanggup dipastikan halal-haramnya (berada antara halal dan haram).
Nabi Saw mengatakan, siapa yang menjauhi syubhat berarti ia membersihkan diri dan agamanya. Siapa yang mendekati syubhat, maka dikhawatirkan termasuk pada hal haram (HR Muttafaq ‘Alaih).
12.Suka Menolong.
Menolong artinya membantu orang yang sedang dalam kesulitan (meringankan bebannya), baik kesulitan ekonomi maupun kesulitan dalam urusan lain selama berada pada garis kebaikan dan takwa (birri wat taqwa). Termasuk menolong orang lain yakni menutupi aibnya sehingga tidak membuatnya malu.
“Siapa yang menghilangkan kesempitan orang mukmin dalam kasus dunia, maka Allah akan mengilangkan kesempitannya besok di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi malu orang mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya” (HR Muslim).
Akhlak tercela atau perangai buruk (su-ul khuluq) yakni sifat, sikap, atau sikap yang dibenci Allah SWT dan merusak korelasi serasi dengan sesama manusia. Akhlak tercela wajib dijauhi umat Islam.
Dalam Q.S. 49:12 kita dapati larangan Allah SWT untuk berperangai buruk, berupa menghina atau mengolok-olok orang lain, mencela sesama mukmin, memanggil seseorang dengan nama panggilan yang buruk atau tidak disukai yang dipanggil, berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), serta bergunjing atau membicarakan malu orang lain.
Berikut uraian singkat sifat-sifat atau sikap yang tergolong perangai buruk yang tidak boleh Islam.
1.Menghina.
Menghina yakni mengeluarkan kata-kata yang merendahkan dan menyakiti hati orang lain, termasuk mengolok-olok, mencela, melaknat/mengutuk, memaki, dan mengejek.
“Cukuplah kejelekan seseorang jikalau ia menghina saudaranya yang Muslim” (HR Muslim).
“Memaki sesama Muslim itu kedurhakaan,” (HR Muttafaq ‘Alaih).
“Mukmin itu bukanlah pencela dan bukan pelaknat dan bukan yang buruk perangai dan bukan yang kotor lidah” (HR Ibnu Mas’ud).
“Barangsiapa yang mengejek saudaranya karena satu dosa, tidak ia mati melainkan melaksanakan dosa itu” (HR Tirmidzi).
Celaan tidak saja tidak boleh dalam korelasi antar manusia, bahkan kepada masakan pun dilarang. Ketika ada masakan yang tidak kita sukai yang disajikan buat kita, jangan dicela. Rasulullah Saw sama sekali tidak pernah mencela makanan. Bila dia menyukainya, dia memakannya. Dan jikalau dia tidak menyukainya, maka ditinggalkannnya masakan tersebut (HR Ahmad dari Abu Hurairah).
2.Buruk sangka (su-uzhan).
“Jauhilah buruk sangka alasannya yakni bahwasanya prasangka itu sedusta-dusta omongan” (HR Muttafaq ‘Alaih).
Buruk sangka itu menuduh atau memandang orang lain dengan “kacamata hitam” atau negative thinking, seraya menyembunyikan kebaikan mereka dan membesar-besarkan keburukan mereka.
3.Bergunjing (Ghibah).
Pada malam Isra' --dalam rangkaian insiden Isra Mi'raj-- Nabi Muhammad Saw melewati suatu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka sendiri dengan kukunya. Nabi Saw bertanya kepada Malaikat Jibril yang mendapinginya waktu itu, "Apa itu Jibril?". Malaikat penyampai wahyu Allah itu menjawab, "Itulah citra orang yang suka menggunjing sesamanya (ghibah)".
Ghibah yakni membicarakan kejelekan atau malu orang lain atau menyebut kasus orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi.
Oleh Allah SWT ghibah diidentikkan dengan "memakan daging mayit saudara sendiri" (Q.S. al-Hujurat:12). Meskipun kejelekan atau kekurangan orang lain itu faktual, benar-benar terjadi alias sesuai dengan kenyataan, tetap saja itu ghibah.
Contoh ghibah banyak sekali. Bahkan dikala kita menyampaikan "pendek amat orang itu" misalnya, itu termasuk ghibah. Diriwayatkan, dikala Siti Aisyah memperlihatkan aba-aba dengan tangannya perihal seorang perempuan yang pendek, Rasulullah Saw bersabda, "Kamu menggunjingnya?".
Ghibah termasuk adat tercela. Tersirat di dalamnya perbuatan tercela lain menyerupai sombong, merasa diri paling baik dan benar, serta menghina orang lain. Ketercelaan ghibah sanggup dirasakan betapa tersinggung perasaan kita, atau sakit hatinya kita, bahkan betapa marahnya kita, jikalau kejelakan dan kekurangan kita dibicarakan orang lain.
Namun demikian, tidak selamanya ghibah itu dilarang. Al-Hasan sebagaimana dikutip Imam Al-Ghazali menyebutkan, "Ada tiga golongan tidak termasuk menggunjing jikalau menyebut malu mereka, yaitu orang yang mengikuti hawa nafsu, orang fasik yang melaksanakan kefasikan secara terang-terangan, dan pemimpin yang menyeleweng". Memperingatkan sesama Muslim atas kejahatan seseorang pun termasuk ghibah yang dibolehkan.
4.Dengki
Hasad merupakan sikap batin, keadaan hati, atau rasa tidak senang, benci, dan antipati terhadap orang lain yang mendapatkan kesenangan, nikmat, mempunyai kelebihan darinya. Sebaliknya, ia merasa senang jikalau orang lain mendapatkan kemalangan atau kesengsaraan. Sikap ini termasuk sikap kaum Yahudi yang dibenci Allah (maghdhub).
"Jika kau memperoleh kebaikan, pasti mereka bersedih hati, tetapi jikalau kau menerima bencana, mereka bergembira karenanya..." (Q.S. 3: 120).
"Janganlah kau mengharap-harapkan sesuatu yang telah dilebihkan Allah pada sebagian darimu atas sebagian yang lain" (Q.S. 4:32).
"Hindarilah hasad, alasannya yakni bahwasanya hasad itu menghapus semua amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar" (H.R. Abu Daud).
"Janganlah kalian saling benci, jangan bersikap hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan bermusuhan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang besaudara!" (H.R. Bukhari dan Muslim).
"Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal, yaitu terhadap seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian dipergunakan untuk kebaikan hingga habisnya harta itu, dan kepada seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah kemudian ia menggunakannya serta mengajarkannya pada orang lain" (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sikap hasad ini berbahaya alasannya yakni sanggup merusak nilai persaudaraan atau menumbuhkan rasa permusuhan secara diam-diam. Hasad juga sanggup mendorong seseorang mencela, menjelek-jelekkan, dan mencari-cari kelemahan atau kesalahan orang lain dan menjadikan prasangka buruk (suudzan).
5.Serakah
Serakah atau tamak yaitu sikap tidak puas dengan yang menjadi hak atau miliknya, sehingga berupaya meraih yang bukan haknya. Setiap orang berpotensi bersikap serakah.
"Jika seseorang sudah mempunyai dua lembah emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu" (H.R. Bukhari dan Muslim).
"Jika seorang anak Adam telah mempunyai harta benda sebanyak satu lembah, pasti ia akan berusaha lagi untuk mempunyai dua lembah. Dan andaikata ia telah mempunyai dua lembah, ia akan berusaha lagi untuk mempunyai tiga lembah. Memang tidak ada sesuatu yang sanggup memenuhi cita-cita anak Adam kecuali tanah (tempat kubur, yakni mati). Dan Allah akan mendapatkan tobat mereka yang bertobat" (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).
Sikap serakah sanggup mendorong orang mencari harta sebanyak-banyaknya dan jabatan setinggi-tingginya, tanpa menghiraukan cara halal atau haram.
Keserakahan pun sanggup menciptakan seseorang bersikap kikir alias tidak gemar memberi dan tidak peduli akan nasib orang lain. Serakah dan tamak telah membinasakan kaum sebelum umat Muhammad Saw.
“Jauhkanlah kikir dan tamak, alasannya yakni hal itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu” (HR Muslim).
6.Kikir (Bakhil).
Kikir yakni penyakit hati. Sifat kikir ini bersumber dari ketamakan, cinta dunia, atau suka kemegahan. Orang yang terbebas dari sifat kikir termasuk orang beruntung (Q.S. Al-Hasyr:9).
“Dua kasus tidak akan berkumpul pada seorang mukmin: sifat kikir dan perangai jelek” (HR Tirmidzi).
7.Riya’
Riya’ yakni sikap ingin dipuji orang lain. Lawan tulus ini haram hukumnya. Nabi Saw menyebutnya sebagai syirik kecil (syirkul ashgar).
“Sesungguhnya yang saya paling takuti atas umatku yakni syirik kecil, yaitu riya’” (HR Ahmad).
Riya’ merupakan lawan atau kebalikan dari tulus (semata-mata alasannya yakni Allah SWT). Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal-ibadah oleh Allah SWT (maqbul). "Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali semoga beribadah pada Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) pada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus..." (Q.S. Al-Bayinah:5, juga Q.S. 4:146, 7:29, Az-Zumar:2,11, 2:139, Luqman:32).
12.Suka Menolong.
Menolong artinya membantu orang yang sedang dalam kesulitan (meringankan bebannya), baik kesulitan ekonomi maupun kesulitan dalam urusan lain selama berada pada garis kebaikan dan takwa (birri wat taqwa). Termasuk menolong orang lain yakni menutupi aibnya sehingga tidak membuatnya malu.
“Siapa yang menghilangkan kesempitan orang mukmin dalam kasus dunia, maka Allah akan mengilangkan kesempitannya besok di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi malu orang mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya” (HR Muslim).
Pengertian dan Jenis-Jenis Akhlak Tercela
Akhlak tercela atau perangai buruk (su-ul khuluq) yakni sifat, sikap, atau sikap yang dibenci Allah SWT dan merusak korelasi serasi dengan sesama manusia. Akhlak tercela wajib dijauhi umat Islam.
Dalam Q.S. 49:12 kita dapati larangan Allah SWT untuk berperangai buruk, berupa menghina atau mengolok-olok orang lain, mencela sesama mukmin, memanggil seseorang dengan nama panggilan yang buruk atau tidak disukai yang dipanggil, berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), serta bergunjing atau membicarakan malu orang lain.
Berikut uraian singkat sifat-sifat atau sikap yang tergolong perangai buruk yang tidak boleh Islam.
1.Menghina.
Menghina yakni mengeluarkan kata-kata yang merendahkan dan menyakiti hati orang lain, termasuk mengolok-olok, mencela, melaknat/mengutuk, memaki, dan mengejek.
“Cukuplah kejelekan seseorang jikalau ia menghina saudaranya yang Muslim” (HR Muslim).
“Memaki sesama Muslim itu kedurhakaan,” (HR Muttafaq ‘Alaih).
“Mukmin itu bukanlah pencela dan bukan pelaknat dan bukan yang buruk perangai dan bukan yang kotor lidah” (HR Ibnu Mas’ud).
“Barangsiapa yang mengejek saudaranya karena satu dosa, tidak ia mati melainkan melaksanakan dosa itu” (HR Tirmidzi).
Celaan tidak saja tidak boleh dalam korelasi antar manusia, bahkan kepada masakan pun dilarang. Ketika ada masakan yang tidak kita sukai yang disajikan buat kita, jangan dicela. Rasulullah Saw sama sekali tidak pernah mencela makanan. Bila dia menyukainya, dia memakannya. Dan jikalau dia tidak menyukainya, maka ditinggalkannnya masakan tersebut (HR Ahmad dari Abu Hurairah).
2.Buruk sangka (su-uzhan).
“Jauhilah buruk sangka alasannya yakni bahwasanya prasangka itu sedusta-dusta omongan” (HR Muttafaq ‘Alaih).
Buruk sangka itu menuduh atau memandang orang lain dengan “kacamata hitam” atau negative thinking, seraya menyembunyikan kebaikan mereka dan membesar-besarkan keburukan mereka.
3.Bergunjing (Ghibah).
Pada malam Isra' --dalam rangkaian insiden Isra Mi'raj-- Nabi Muhammad Saw melewati suatu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka sendiri dengan kukunya. Nabi Saw bertanya kepada Malaikat Jibril yang mendapinginya waktu itu, "Apa itu Jibril?". Malaikat penyampai wahyu Allah itu menjawab, "Itulah citra orang yang suka menggunjing sesamanya (ghibah)".
Ghibah yakni membicarakan kejelekan atau malu orang lain atau menyebut kasus orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi.
Oleh Allah SWT ghibah diidentikkan dengan "memakan daging mayit saudara sendiri" (Q.S. al-Hujurat:12). Meskipun kejelekan atau kekurangan orang lain itu faktual, benar-benar terjadi alias sesuai dengan kenyataan, tetap saja itu ghibah.
Contoh ghibah banyak sekali. Bahkan dikala kita menyampaikan "pendek amat orang itu" misalnya, itu termasuk ghibah. Diriwayatkan, dikala Siti Aisyah memperlihatkan aba-aba dengan tangannya perihal seorang perempuan yang pendek, Rasulullah Saw bersabda, "Kamu menggunjingnya?".
Ghibah termasuk adat tercela. Tersirat di dalamnya perbuatan tercela lain menyerupai sombong, merasa diri paling baik dan benar, serta menghina orang lain. Ketercelaan ghibah sanggup dirasakan betapa tersinggung perasaan kita, atau sakit hatinya kita, bahkan betapa marahnya kita, jikalau kejelakan dan kekurangan kita dibicarakan orang lain.
Namun demikian, tidak selamanya ghibah itu dilarang. Al-Hasan sebagaimana dikutip Imam Al-Ghazali menyebutkan, "Ada tiga golongan tidak termasuk menggunjing jikalau menyebut malu mereka, yaitu orang yang mengikuti hawa nafsu, orang fasik yang melaksanakan kefasikan secara terang-terangan, dan pemimpin yang menyeleweng". Memperingatkan sesama Muslim atas kejahatan seseorang pun termasuk ghibah yang dibolehkan.
4.Dengki
Hasad merupakan sikap batin, keadaan hati, atau rasa tidak senang, benci, dan antipati terhadap orang lain yang mendapatkan kesenangan, nikmat, mempunyai kelebihan darinya. Sebaliknya, ia merasa senang jikalau orang lain mendapatkan kemalangan atau kesengsaraan. Sikap ini termasuk sikap kaum Yahudi yang dibenci Allah (maghdhub).
"Jika kau memperoleh kebaikan, pasti mereka bersedih hati, tetapi jikalau kau menerima bencana, mereka bergembira karenanya..." (Q.S. 3: 120).
"Janganlah kau mengharap-harapkan sesuatu yang telah dilebihkan Allah pada sebagian darimu atas sebagian yang lain" (Q.S. 4:32).
"Hindarilah hasad, alasannya yakni bahwasanya hasad itu menghapus semua amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar" (H.R. Abu Daud).
"Janganlah kalian saling benci, jangan bersikap hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan bermusuhan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang besaudara!" (H.R. Bukhari dan Muslim).
"Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal, yaitu terhadap seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian dipergunakan untuk kebaikan hingga habisnya harta itu, dan kepada seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah kemudian ia menggunakannya serta mengajarkannya pada orang lain" (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sikap hasad ini berbahaya alasannya yakni sanggup merusak nilai persaudaraan atau menumbuhkan rasa permusuhan secara diam-diam. Hasad juga sanggup mendorong seseorang mencela, menjelek-jelekkan, dan mencari-cari kelemahan atau kesalahan orang lain dan menjadikan prasangka buruk (suudzan).
5.Serakah
Serakah atau tamak yaitu sikap tidak puas dengan yang menjadi hak atau miliknya, sehingga berupaya meraih yang bukan haknya. Setiap orang berpotensi bersikap serakah.
"Jika seseorang sudah mempunyai dua lembah emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu" (H.R. Bukhari dan Muslim).
"Jika seorang anak Adam telah mempunyai harta benda sebanyak satu lembah, pasti ia akan berusaha lagi untuk mempunyai dua lembah. Dan andaikata ia telah mempunyai dua lembah, ia akan berusaha lagi untuk mempunyai tiga lembah. Memang tidak ada sesuatu yang sanggup memenuhi cita-cita anak Adam kecuali tanah (tempat kubur, yakni mati). Dan Allah akan mendapatkan tobat mereka yang bertobat" (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).
Sikap serakah sanggup mendorong orang mencari harta sebanyak-banyaknya dan jabatan setinggi-tingginya, tanpa menghiraukan cara halal atau haram.
Keserakahan pun sanggup menciptakan seseorang bersikap kikir alias tidak gemar memberi dan tidak peduli akan nasib orang lain. Serakah dan tamak telah membinasakan kaum sebelum umat Muhammad Saw.
“Jauhkanlah kikir dan tamak, alasannya yakni hal itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu” (HR Muslim).
6.Kikir (Bakhil).
Kikir yakni penyakit hati. Sifat kikir ini bersumber dari ketamakan, cinta dunia, atau suka kemegahan. Orang yang terbebas dari sifat kikir termasuk orang beruntung (Q.S. Al-Hasyr:9).
“Dua kasus tidak akan berkumpul pada seorang mukmin: sifat kikir dan perangai jelek” (HR Tirmidzi).
7.Riya’
Riya’ yakni sikap ingin dipuji orang lain. Lawan tulus ini haram hukumnya. Nabi Saw menyebutnya sebagai syirik kecil (syirkul ashgar).
“Sesungguhnya yang saya paling takuti atas umatku yakni syirik kecil, yaitu riya’” (HR Ahmad).
Riya’ merupakan lawan atau kebalikan dari tulus (semata-mata alasannya yakni Allah SWT). Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal-ibadah oleh Allah SWT (maqbul). "Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali semoga beribadah pada Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) pada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus..." (Q.S. Al-Bayinah:5, juga Q.S. 4:146, 7:29, Az-Zumar:2,11, 2:139, Luqman:32).
8.Berdusta
Berkata dusta yakni salah satu ciri kaum munafik, selain mengkhianati kepercayaan dan mengingkari kesepakatan (HR Bukhari dan Muslim).
“Dan jauhilah perkataan dusta” (Q.S. 22:30).
“Jauhilah kedustaan alasannya yakni bahwasanya kedustaan (kadzib) itu memimpin kepada kedurhakaan dan kedurhakaan membawa ke neraka” (HR Muttafaq ‘Alaih).
9.Bermusuhan.
Bermusuhan yakni sikap bertentangan dengan semangat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam). Orang Muslim harus menjauhi saling bermusuhan.
“Janganlah kau saling benci dan saling berpaling muka” (HR Muslim).
“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya ((tidak saling bicara) selama lebih dari tiga hari, keduanya bertemu kemudian saling berpaling muka (bermusuhan). Yang paling baik di antara mereka yakni yang memulai mengucapkan salam (mengajak damai)” (HR Bukhari dan Muslim).
“Janganlah kau putus-memutuskan korelasi baik, belakang-membelakangi, benci-membenci, hasad menghasad. Hendaklah kau menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama lain dan tidak halal bagi Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari” (HR Bukhari dan Muslim).
10. Mengadu-domba (Namimah).
Mengadu-domba yakni mendorong dua pihak atau lebih untuk saling bermusuhan.
“Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan persaudaraan (mengadu domba)” (HR Muttafaq ‘Alaih).
“Maukah kau saya beritahukan perihal ‘adh-hu? Yaitu mengumpat, mengadu-domba dengan omongan di antara manusia” (HR Muslim).
11. Sombong.
Sombong (takabur) yakni merasa gembira pada diri sendiri, merasa paling baik atau paling hebat, dan merasa paling benar sehingga menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari gejala kekuasaan-Ku...” (Q.S. Al-A’raf: 146).
“Barangsiapa merasa besar (bangga) pada dirinya dan sombong di dalam jalannya, pasti dia bertemu Allah di dalam keadaan Allah murka kepadanya” (Q.S. Hakim dari Ibnu Umar).
“Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya menyelinap sifat sombong” (HR Muslim dan Tirmidzi).
“Tiga kasus yang merusak manusia: perangai kikir yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diikuti, dan gembira pada diri sendiri (sombong)” (HR Thabrani).
12. Nongkrong di pinggir jalan (Julus ‘Ala ath-Thuruqat).
“Jauhilah duduk di jalan-jalan (nongkrong). Mereka berkata: ‘Ya Rasulallah! Kami terpaksa memerlukan tempat-tempat duduk yang kami beromong-omong padanya (nongkrong di jalan sambil ngobrol)’. Sabada Nabi: ‘Jika kau enggan, berilah kepada jalan itu haknya!’
Berkata dusta yakni salah satu ciri kaum munafik, selain mengkhianati kepercayaan dan mengingkari kesepakatan (HR Bukhari dan Muslim).
“Dan jauhilah perkataan dusta” (Q.S. 22:30).
“Jauhilah kedustaan alasannya yakni bahwasanya kedustaan (kadzib) itu memimpin kepada kedurhakaan dan kedurhakaan membawa ke neraka” (HR Muttafaq ‘Alaih).
9.Bermusuhan.
Bermusuhan yakni sikap bertentangan dengan semangat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam). Orang Muslim harus menjauhi saling bermusuhan.
“Janganlah kau saling benci dan saling berpaling muka” (HR Muslim).
“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya ((tidak saling bicara) selama lebih dari tiga hari, keduanya bertemu kemudian saling berpaling muka (bermusuhan). Yang paling baik di antara mereka yakni yang memulai mengucapkan salam (mengajak damai)” (HR Bukhari dan Muslim).
“Janganlah kau putus-memutuskan korelasi baik, belakang-membelakangi, benci-membenci, hasad menghasad. Hendaklah kau menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama lain dan tidak halal bagi Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari” (HR Bukhari dan Muslim).
10. Mengadu-domba (Namimah).
Mengadu-domba yakni mendorong dua pihak atau lebih untuk saling bermusuhan.
“Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan persaudaraan (mengadu domba)” (HR Muttafaq ‘Alaih).
“Maukah kau saya beritahukan perihal ‘adh-hu? Yaitu mengumpat, mengadu-domba dengan omongan di antara manusia” (HR Muslim).
11. Sombong.
Sombong (takabur) yakni merasa gembira pada diri sendiri, merasa paling baik atau paling hebat, dan merasa paling benar sehingga menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari gejala kekuasaan-Ku...” (Q.S. Al-A’raf: 146).
“Barangsiapa merasa besar (bangga) pada dirinya dan sombong di dalam jalannya, pasti dia bertemu Allah di dalam keadaan Allah murka kepadanya” (Q.S. Hakim dari Ibnu Umar).
“Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya menyelinap sifat sombong” (HR Muslim dan Tirmidzi).
“Tiga kasus yang merusak manusia: perangai kikir yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diikuti, dan gembira pada diri sendiri (sombong)” (HR Thabrani).
12. Nongkrong di pinggir jalan (Julus ‘Ala ath-Thuruqat).
“Jauhilah duduk di jalan-jalan (nongkrong). Mereka berkata: ‘Ya Rasulallah! Kami terpaksa memerlukan tempat-tempat duduk yang kami beromong-omong padanya (nongkrong di jalan sambil ngobrol)’. Sabada Nabi: ‘Jika kau enggan, berilah kepada jalan itu haknya!’
Mereka bertanya: ‘Apakah hak itu?’ Sabdanya: ‘Menundukkan pandangan (dari perempuan yang lewat), tidak mengganggu (pelalu-lalang), membalas salam, dan mengajak pada kebaikan serta mencegah kemunkaran” (HR Muttafaq ‘Alaih).
Demikian Pengertian dan Jenis-Jenis Akhlak Baik vs Akhlak Buruk.*

Posting Komentar untuk "Pengertian Dan Jenis-Jenis Adat Baik Vs Adat Buruk"