Tiga Versi Penyebab Rusuh Mako Brimob
Keterangan pers polisi tak sepenuhnya menjawab penyebab kericuhan berdarah di Mako Brimob.
Berikut ini Tiga Versi Penyebab Rusuh Mako Brimob: Polisi, Napi Teroris, dan Tim Pengacara Muslim.
Sumber http://muslimbuzzers.blogspot.com
Penyebab Rusuh Mako Brimob versi Polisi
“Jadi ini berawal dari semua permasalahan yang sudah dikumpul-kumpul, diakumulasi oleh ikhwan-ikhwan, dari mulai persoalan pembatasan ihwal hak-hak: makanan, lalu persoalan besukan, dan sebagainya,” ujar Abu Qutaibah alias Iskandar alias Alexander.
Abu Qutaibah ialah sosok yang dituakan di antara penghuni tiga blok khusus tindak pidana terorisme di Rutan Mako Brimob. Ia ialah narapidana tindak pidana terorisme (napiter) Bom Kampung Melayu yang ditangkap pada Juni 2017 oleh Densus 88 Mabes Polri.
Rekaman Abu Qutaibah menjadi komplemen informasi ihwal penyebab ricuh yang menciptakan lima personel polisi tewas dan terjadi drama penyanderaan ibarat klaim pihak kepolisian.
Menurut Abu Qutaibah, insiden pemberontakan napi dan terdakwa masalah terorisme di Mako Brimob itu akumulasi kekesalan para napi teroris lantaran barang titipan yang diberikan kolega mereka tak sanggup masuk ke ruang tahanan.
Penuturan Napi Teroris diperkuat pernyataan Tim Pengacara Muslim (TPM). Menurut TPM, salah satu pemicu kerusuhan ialah lantaran hak-hak kemanusian.
"Nah istrinya mengadu (ditelanjangin) dan suaminya yang mempunyai pemahaman Islam ibarat itu, kan ini ranah privat," ungkap Michdan.
Michdan juga mengemukakan soal jatah masakan selama mereka di dalam tahanan. Para napi merasa masakan yang didapat jauh dari kata layak.
Tidak hanya porsi masakan yang sedikit, tapi gizi yang ada dalam masakan itu juga tidak memadai. Selain itu, akhir-akhir ini mereka juga dihentikan mendapatkan masakan dari luar yang dibawa oleh pembesuk.
"Saya kira itu akumulasi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Kita sanggup ambil nasihat dari peristiwa ini," ucap Michdan.
Menurut Kadiv Humas Polisi Republik Indonesia Irjen Setyo Wasisto, penyebab rusuh Mako Brimob ialah soal makanan.
Disebutkan, awal mula kerusuhan terjadi lantaran adanya keributan yang dilakukan tahanan lantaran urusan makanan.
Tahanan masalah terorisme, Wawan, tersangka masalah Bom Pandawa, disebut Setyo menjadi pemicu keributan sehingga mempengaruhi tahanan lainnya.
"Siang atau sore, ini kan ada masakan yang dititip keluarga. Katanya nitipke Pak Budi (petugas). Pak Budi sedang tidak kiprah atau sedang keluar, jadi dicari-cari nggak ada. Dia bikin ribut, goyang-goyang, si Wawan (menanyakan) mana titipan makanannya. Ribut, ribut, sehingga memicu yang lain," ujar Setyo.
Pada sore ke malam hari, tahanan terorisme mulai menjebol terali sel. Mereka juga menyerang polisi penjaga yang sedang berpatroli di blok tahanan.
"Ada yang bawa senjata tajam juga. Di dalam mungkin sudah disiapin." ujar Setyo.
Dalam kerusuhan ini, ada 5 polisi yang gugur. Kelimanya ialah Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.
Satu anggota Densus 88, Bripka Iwan Sarjana, disandera. Satu napi teroris yang tewas lantaran melaksanakan perlawanan kepada petugas ialah Abu Ibrahim alias Beny Syamsu
Menurut Setyo, Wawan ialah anggota kelompok JAD Bandung. Abu Ibrahim, yang berasal dari Pekanbaru, juga anggota JAD.
Tahanan masalah terorisme, Wawan, tersangka masalah Bom Pandawa, disebut Setyo menjadi pemicu keributan sehingga mempengaruhi tahanan lainnya.
"Siang atau sore, ini kan ada masakan yang dititip keluarga. Katanya nitipke Pak Budi (petugas). Pak Budi sedang tidak kiprah atau sedang keluar, jadi dicari-cari nggak ada. Dia bikin ribut, goyang-goyang, si Wawan (menanyakan) mana titipan makanannya. Ribut, ribut, sehingga memicu yang lain," ujar Setyo.
Pada sore ke malam hari, tahanan terorisme mulai menjebol terali sel. Mereka juga menyerang polisi penjaga yang sedang berpatroli di blok tahanan.
"Ada yang bawa senjata tajam juga. Di dalam mungkin sudah disiapin." ujar Setyo.
Dalam kerusuhan ini, ada 5 polisi yang gugur. Kelimanya ialah Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.
Satu anggota Densus 88, Bripka Iwan Sarjana, disandera. Satu napi teroris yang tewas lantaran melaksanakan perlawanan kepada petugas ialah Abu Ibrahim alias Beny Syamsu
Menurut Setyo, Wawan ialah anggota kelompok JAD Bandung. Abu Ibrahim, yang berasal dari Pekanbaru, juga anggota JAD.
Penyebab Rusuh Mako Brimob versi Napi
Napi terosis mengakui, penyebab rusuh Mako Brimob ialah soal makanan, namun tidak hanya soal makakan. Rusuh Mako Brimob disebabkan akumulasi persoalan lainnya.
Abu Qutaibah ialah sosok yang dituakan di antara penghuni tiga blok khusus tindak pidana terorisme di Rutan Mako Brimob. Ia ialah narapidana tindak pidana terorisme (napiter) Bom Kampung Melayu yang ditangkap pada Juni 2017 oleh Densus 88 Mabes Polri.
Rekaman Abu Qutaibah menjadi komplemen informasi ihwal penyebab ricuh yang menciptakan lima personel polisi tewas dan terjadi drama penyanderaan ibarat klaim pihak kepolisian.
Menurut Abu Qutaibah, insiden pemberontakan napi dan terdakwa masalah terorisme di Mako Brimob itu akumulasi kekesalan para napi teroris lantaran barang titipan yang diberikan kolega mereka tak sanggup masuk ke ruang tahanan.
Selain itu, ada perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka ketika besuk. “Akhwat kami ditelanjangi,” ujar Abu Qutaibah.
“Itu terkadang sudah pakai celana dalam, disuruh loncat jongkok. Ini dengan tujuan bila ada barang terlarang sanggup jatuh lantaran disuruh loncat-loncat. Ini satu hal yang tidak manusiawi berdasarkan kami,” tambah Qutaibah.
Akumulasi kekesalan itu lalu meledak ketika ajakan klarifikasi para napiter kepada petugas tak direspons dengan baik. Para napiter mendatangi kantor sipir untuk meminta klarifikasi kenapa barang, termasuk masakan yang diberikan oleh keluarga mereka, tidak diantara ke tahanan.
Saat para napiter meminta penjelasan, kata Abu Qutaibah, seorang anggota Densus 88 meletuskan tembakan yang melukai rekan mereka.
“Itu terkadang sudah pakai celana dalam, disuruh loncat jongkok. Ini dengan tujuan bila ada barang terlarang sanggup jatuh lantaran disuruh loncat-loncat. Ini satu hal yang tidak manusiawi berdasarkan kami,” tambah Qutaibah.
Akumulasi kekesalan itu lalu meledak ketika ajakan klarifikasi para napiter kepada petugas tak direspons dengan baik. Para napiter mendatangi kantor sipir untuk meminta klarifikasi kenapa barang, termasuk masakan yang diberikan oleh keluarga mereka, tidak diantara ke tahanan.
Saat para napiter meminta penjelasan, kata Abu Qutaibah, seorang anggota Densus 88 meletuskan tembakan yang melukai rekan mereka.
Tembakan itu sempurna mengenai dada kiri seorang tahanan. Belakangan, diketahui tahanan yang tertembak itu ialah Wawan Kurniawan alias Abu Afif.
Petugas lalu melepas tembakan kembali dan menumbangkan Benny Syamsu, terdakwa tindak pidana terorisme asal Pekanbaru, yang persidangannya satu majelis dengan Wawan di PN Jakarta Barat.
Petugas lalu melepas tembakan kembali dan menumbangkan Benny Syamsu, terdakwa tindak pidana terorisme asal Pekanbaru, yang persidangannya satu majelis dengan Wawan di PN Jakarta Barat.
Saat mengetahui rekan mereka tumbang, kemarahan memuncak dan situasi tak sanggup dikendalikan.
"Ketika mereka hingga dengan kemarahan mereka di kantor sipir ada petugas Densus yang mengeluarkan tembakan, lalu ikhwan kami terluka. Satu orang,” kata Qutaibah.
“Wallahu a'lam ini semua di luar dugaan kami. Makara bila pihak Densus menyalahkan kami, tidak bisa. Karena insiden ini tidak ada rencana sebelumnya.”
Perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka ketika membesuk tahanan di Mako Brimob, dibantah Kepala Divisi Humas Mabes Polisi Republik Indonesia Irjen Setyo Wasisto.
"Enggak mungkin lah bila itu. Hoaks itu saya berani jamin bila yang menjenguk ditelanjangi, nggak mungkin," kata Setyo.
"Ketika mereka hingga dengan kemarahan mereka di kantor sipir ada petugas Densus yang mengeluarkan tembakan, lalu ikhwan kami terluka. Satu orang,” kata Qutaibah.
“Wallahu a'lam ini semua di luar dugaan kami. Makara bila pihak Densus menyalahkan kami, tidak bisa. Karena insiden ini tidak ada rencana sebelumnya.”
Perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka ketika membesuk tahanan di Mako Brimob, dibantah Kepala Divisi Humas Mabes Polisi Republik Indonesia Irjen Setyo Wasisto.
"Enggak mungkin lah bila itu. Hoaks itu saya berani jamin bila yang menjenguk ditelanjangi, nggak mungkin," kata Setyo.
Penyebab Rusuh Mako Brimob versi TPM
Penuturan Napi Teroris diperkuat pernyataan Tim Pengacara Muslim (TPM). Menurut TPM, salah satu pemicu kerusuhan ialah lantaran hak-hak kemanusian.
"Mulai dari penangkapan, penahanan hingga mereka disidangkan dan ditahan itu banyak hal yang dirasakan sebagai pelanggaran hak-hak asasi mereka," terperinci anggota TPM Ahmad Michdan.
Menurut Michdan, selama ini penangkapan terhadap mereka tidak manusiawi, lantaran seharusnya mereka ditangkap secara baik-baik tidak perlu diculik dan perlakuan kasar. Padahal, ketika penangkapan mereka tidak sedang melaksanakan hal-hal yang membahayakan.
Misalnya, mereka sedang berjualan tiba-tiba diculik, kecuali memang sedang melaksanakan agresi terorisme. Apalagi, sambungnya, para teroris itu bekerjsama orang baik-baik.
"Kalau kekerasan itu sudah dari awal hingga mereka jadi napi itu mereka terima, saya sudah adukan ke Komnas dari dulu," tambahnya.
TPM juga menyebutkan soal investigasi superketat terhadap keluarga mereka. Seperti istri para narapidana yang ingin membesuk harus digeledah untuk diperiksa.
Menurut Michdan, selama ini penangkapan terhadap mereka tidak manusiawi, lantaran seharusnya mereka ditangkap secara baik-baik tidak perlu diculik dan perlakuan kasar. Padahal, ketika penangkapan mereka tidak sedang melaksanakan hal-hal yang membahayakan.
Misalnya, mereka sedang berjualan tiba-tiba diculik, kecuali memang sedang melaksanakan agresi terorisme. Apalagi, sambungnya, para teroris itu bekerjsama orang baik-baik.
"Kalau kekerasan itu sudah dari awal hingga mereka jadi napi itu mereka terima, saya sudah adukan ke Komnas dari dulu," tambahnya.
TPM juga menyebutkan soal investigasi superketat terhadap keluarga mereka. Seperti istri para narapidana yang ingin membesuk harus digeledah untuk diperiksa.
Padahal, kata Michdan, bila selama ini mereka dipandang baik selama membesuk suaminya tidak perlu ibarat itu.
"Nah istrinya mengadu (ditelanjangin) dan suaminya yang mempunyai pemahaman Islam ibarat itu, kan ini ranah privat," ungkap Michdan.
Michdan juga mengemukakan soal jatah masakan selama mereka di dalam tahanan. Para napi merasa masakan yang didapat jauh dari kata layak.
Tidak hanya porsi masakan yang sedikit, tapi gizi yang ada dalam masakan itu juga tidak memadai. Selain itu, akhir-akhir ini mereka juga dihentikan mendapatkan masakan dari luar yang dibawa oleh pembesuk.
"Saya kira itu akumulasi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Kita sanggup ambil nasihat dari peristiwa ini," ucap Michdan.
Posting Komentar untuk "Tiga Versi Penyebab Rusuh Mako Brimob"